Jumat, 24 Juni 2016

Antara Perkawanan dan Bisnis

Antara Perkawanan dan Bisnis Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dulu, saya sering sekali mendengar ucapan orang yang diucapkan dengan nada slenge’an. Ungkapan itu berbunyi: “Bisnis ya bisnis, teman ya teman…” Ucapan itu disampaikan saat seorang rekan menawar harga barang yang ditawarkan oleh rekan yang lain. “Kok mahal amat? Kita kan udah lama berkawan, diskon yang gede doong,” ujar rekan yang satu. Sambil meringis, rekan satu lagi segera menyahut, “Aku kan beli ini bukan pakai uangmu kawan, dan bukan pula dibayar dengan perkawanan. Tapi, murni pakai uang…”

Kadang, kita memang menemukan kondisi seperti kisah rekan saya di atas. Karena alasan pertemanan, sebuah bisnis atau usaha, bisa berjalan lancar, tapi juga sebaliknya. Kalau lancar, kadang orang kemudian mengindikasikannya dengan nepotisme. Kalau tidak lancar, kadang bisa merusak persahabatan. Nah, serbasusah kan?

Belakangan, saya getol memaksimalkan potensi orang-orang yang ada di sekeliling saya untuk membantu melancarkan usaha. Dalam artian positif tentunya. Rekan yang bisa urusan desain, saya maksimalkan potensinya untuk menggarap pekerjaan yang berbau desain grafis, mulai dari bikin iklan, brosur, hingga ke banner dan poster. Yang jago menulis, saya kerahkan untuk menulis di beberapa website dari klien-klien saya. Kemudian yang jago web dan program, saya serahi pula tanggung jawab untuk mengerjakan beberapa karya untuk klien-klien saya.

Sampai di sini, semua tak ada masalah. Semua senang. S
... baca selengkapnya di Antara Perkawanan dan Bisnis Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Kamis, 16 Juni 2016

Menjual Sisir Kepada Biksu

Menjual Sisir Kepada Biksu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pada suatu hari, sebuah perusahaan sisir akan mengadakan ekspansi untuk area pemasaran yang baru. Perusahaan sisir tersebut lalu membuka lowongan pekerjaan. Karyawan baru itu akan ditempatkan di Divisi Marketing. Setelah lowongan dibuka, banyak sekali orang yang mendaftarkan diri untuk mengisinya. Lebih dari 100 orang pelamar datang ke perusahaan itu setiap harinya.

Setelah melalui berbagai proses seleksi yang cukup ketat, terpilihlah tiga kandidat utama. Sebut saja A, B, dan C. Perusahaan lalu melakukan seleksi final dengan memberi tugas kepada tiga orang terpilih. Seleksi finalnya ialah A, B, dan C diminta untuk menjual sisir kepada para biksu ? yang tinggal pada sebuah komplek wihara ? di area pemasaran baru tersebut ? dalam jangka waktu 10 hari. Bagi sebagian orang, tugas ini sangat tidak masuk akal, mengingat biksu-biksu itu berkepala gundul dan tidak pernah memerlukan sisir.

Sepuluh hari pun berlalu, akhirnya tiba saat ketiga pelamar tersebut datang kembali pada perusahaan untuk melaporkan hasil penjualannya.

Pelamar A :

Saya hanya mampu menjual satu sisir. Saya sudah berusaha menawarkan sisir itu kepada para biksu di sana, tetapi mereka malah marah-marah karena saya dikira melecehkan. Tetapi untung, ketika saya berjalan menuruni tangga, ada seorang biksu muda yang mau membeli satu sisir saya. Sisir itu akan ia gunakan untuk menggaru
... baca selengkapnya di Menjual Sisir Kepada Biksu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

The Power of Action: Melawan Rintangan, Menaklukan Hambatan (Local Wisdom 6)

The Power of Action: Melawan Rintangan, Menaklukan Hambatan (Local Wisdom 6) Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Agung Praptapa

Anda menginginkan sesuatu tetapi belum terwujud? Saya yakin banyak dari kita mengalami hal ini. Banyak dari kita menginginkan sesuatu tetapi belum juga didapatkan. Mari kita telusuri mengapa apa yang kita inginkan belum juga kita dapatkan? Tentunya banyak sekali alasan. Tetapi coba kita amati dengan cermat. Ternyata hampir semua yang kita inginkan tersebut belum juga kita dapatkan karena kita hanya “ingin”, tetapi tidak pernah bertindak sama sekali untuk mendapatkan yang kita mau. Think only, talk only, but NO ACTION! Mengapa penyakit NO ACTION ini hinggap dibanyak orang? Mari kita telusuri satu persatu. Terdapat beberapa alasan mengapa orang memilih “no action”. Alasan pertama adalah karena mereka tidak bisa melihat pentingnya dan kemendesakan dari apa yang kita inginkan tersebut. Tidak ada sense of urgency. Kalau realitanya apa yang kita inginkan tersebut memang tidak penting, tidak apa-apa kalau hal tersebut tidak terlaksana. Toh hanya sesuatu yang tidak penting. It’s still all right. Tetapi masalahn
... baca selengkapnya di The Power of Action: Melawan Rintangan, Menaklukan Hambatan (Local Wisdom 6) Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Senin, 13 Juni 2016

Manfaat dan Bahaya Past Life Regression

Manfaat dan Bahaya Past Life Regression Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

If the only tool you have is a hammer, you will treat every problem as a nail

Pembaca, dalam artikel sebelumnya saya pernah mengulas mengenai Past Life Regression (PLR) atau Regresi Kehidupan Lampau. Saya kembali menulis mengenai PLR karena baru-baru ini saya mendapat telepon dari seorang kawan yang tinggal di ujung timur Indonesia, Papua. Kawan ini, sebut saja, Rini, bercerita bahwa ia baru menjalani terapi dengan seorang hipnoterapis terkenal di Jakarta dan telah mengalami PLR.

Sampai di sini saya masih tetap asyik mendengarkan kisahnya. Namun, yang membuat saya terhenyak adalah saat ia berkata, “Pak, sekarang saya tahu dulunya saya ini siapa. Waktu saya diregresi ke kehidupan lampau ternyata saya adalah Nyi Roro Kidul, penguasa pantai laut selatan.”

Wah… saya kaget sekali. Ditambah lagi ia berkata bahwa ia sekarang juga tahu siap soulmate-nya. Ternyata soulmate-nya adalah seorang pria, profesinya sebagai guru, yang berusia jauh lebih tua darinya. Dan guru ini sudah menikah. Hati Rini hancur sekali karena tidak bisa merajut kembali hubungan kasih mereka di kehidupan ini. Saat menelepon saya Rini juga melaporkan bahwa kondisi emosinya labil sejak menjalani terapi di Jakarta.

Mengapa saya kaget mendengar cerita Rini?

Karena kisah Rini mengingatkan saya akan kisah seorang kawan yang juga mengalami hal “luar biasa” setelah mengalami
... baca selengkapnya di Manfaat dan Bahaya Past Life Regression Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Jumat, 19 Maret 2010


BLACK COCK CEMANI 


Ini adalah sambungan dari postingan sebelumnya Djarum BlackCock Cemani (1) dengan Tag Djarum Black Blog Competition Volume 2.

Sebagaimana disebutkan pada postingan sebelumnya, bahwa ayam cemani ini serba hitam yang sangat identik dengan Djarum Black.


Ayam Cemani merupakan keturunan dari ayam kedu yang dipelihara sebelumnya. "Saya memang hobi memelihara ayam kedu, seperti masyarakat di sini pada umumnya. Tapi dari kedua ekor ayam itu, tahu-tahu muncul dua ekor ayam cemani, serba hitam sampai lidah dan mulutnya, ya langsung kita pisahkan dan dibiakkan," katanya. Kalau dirupiahkan, modal awal Mahmud hanya sekitar Rp 5.000.

Seperti peternak lainnya, motivasi Mahmud memelihara cemani adalah untuk bisnis guna menghidupi keluarganya. "Bayangkan, gaji pensiunan terbatas. Maka, bisnis ayam cemani sangat membantu. Berkat ayam cemani pula, anak kami bisa kuliah di Yogyakarta," kata Mahmud, yang kedua anaknya sudah kuliah di semester terakhir pada sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Sebelum krisis moneter, Mahmud sering didatangi pembeli. Setiap bulan ia bisa menjual sampai 10 ayam cemani jenis bagus dan biasa. "Setelah krisis ekonomi, bisa menjual dua ekor sebulan saja sudah untung," katanya. Harga ayamnya pernah mencapai Rp 2 juta.

Biaya pemeliharaannya juga tak terlalu besar. Menurut Mahmud, untuk 50 ekor ayam peliharaannya, ia hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 30.000 setiap bulan. "Tapi pada masa krisis sekarang, biayanya meningkat tiga kali lipat," ujarnya.

Selain beternak ayam, Mahmud juga menggarap sawah bersama beberapa tetangganya. Kehidupannya bersama penduduk Beji cukup makmur. Rumah permanen, pesawat televisi, dan berbagai peralatan modern di dapur terlihat nangkring cukup rapi. "Itu semua bisa dibeli berkat ayam cemani," ujar peraih hadiah Prestasi Kencana, pecinta lingkungan bidang peternakan tingkat Jawa Tengah, l99l, itu.

Mahmud menuturkan, ia pernah mendapat surat khusus dari Bupati Jembrana, Bali, pada l986. Sang bupati hendak membeli ayam cemani untuk pengobatan penyakit istrinya. "Saya bangga, ayam-ayam saya berguna bagi orang lain. Apalagi secara tidak langsung, pemeliharaan ayam ini merupakan upaya pelestarian ayam cemani dan ayam kedu," kata bapak yang sudah mulai memutih rambutnya itu.

Bahwa ayam cemani dapat mendatangkan kemakmuran penduduk, diakui Harsono. "Desa kami tak mendapatkan bantuan IDT (Insus Desa Tertinggal), karena terangkat berkat cemani. Anak saya sendiri kuliah dari cemani," katanya. Penduduk Kedu, sejumlah 1.138 kepala keluarga, kebanyakan memelihara ayam cemani. 


Perangkat Desa Kedu itu mengaku, tanah bengkok yang dijadikan jaminan sosial bagi jabatannya kadang belum cukup untuk menghidupi keluarganya. "Kami pelihara cemani, di samping untuk pelestarian, kami jual untuk biaya tambahan," kata ayah enam anak itu.
Itu dibenarkan Agus Prasojo, Kepala Seksi Penyuluhan Dinas Pertanian Temanggung. "Ayam itu sengaja kami programkan untuk dikembangkan menjadi jati diri masyarakat Temanggung," ujarnya. Dan pemerintah merasa diuntungkan dengan meningkatkannya kemakmuran masyarakat.

Menurut Harsono, mahalnya harga ayam cemani itu karena adanya kesepakatan antara pembeli dan penjual. Kadang, pemilik cemani akan melihat siapa pembelinya, dan untuk apa.
Jika pembeli menginginkan syarat tertentu, misalnya meminta cengger ayam harus besar berbentuk pilah, atau kakinya harus cacat, atau syarat lainnya, maka ayam yang memenuhi syarat itu harganya bisa mencapai Rp 3 juta.
Tapi yang biasa-biasa saja, hanya sekitar Rp 400.000. Pembeli yang datang ternyata tak hanya dari Indonesia, melainkan juga dari mancanegara, misalnya Jepang, Jerman, dan Belanda.
Meski kebanyakan ayam cemani digunakan untuk hal-hal ritual dan pengobatan, masyarakat peternak cemani tak memandang ayamnya istimewa. "Kami memberinya kandang khusus bukan untuk tujuan magis. Sekadar untuk menjaga keamanan dan kesehatan ayam, karena harganya mahal," ujar Harsono.

Peternak sukses lainnya adalah Istono Rahayu, 51 tahun. Seperti halnya Mahmud dan Harsono, Istono beternak ayam cemani untuk bisnis. "Pekerjaan tiap hari saya ya bergelut dengan cemani dan perkutut di rumah ini, yang lain tidak ada," katanya.

Penataan kandang-kandang ayam cemani milik Istono Rahayu, di halaman rumah seluas 200 meter persegi, tampak lebih rapi dan tertata apik. Sebagai peneduh, ia menanam pohon-pohon salak pondoh. "Karena ayam-ayam itu menghidupi keluarga kami, ya kami perlakukan seperti raja. Kami buatkan Istono," kata bapak yang sanggup menyekolahkan kedua anaknya hingga tingkat universitas itu.

Menurut Istono, biasanya pada bulan Rajab, Ruwah, dan Muharam, banyak pembeli yang datang. Mereka membeli ayam cemani untuk upacara ritual. "Lima tahun lalu, saat menjelang Sidang Umum MPR di Jakarta, banyak permintaan," kata Istono.

Kabarnya, sekarang ini pun banyak pesanan dari Jakarta. Konon untuk keperluan Sidang Umum MPR. Ada yang memesan lima ekor ayam cemani yang bagus. "Entah diapakan ayam cemani itu, kok bisa dikaitkan dengan keamanan Sidang Umum MPR atau keberhasilan pejabat tertentu. Yang saya tahu hanya bagaimana memelihara dan menjualnya dengan harga mahal," ujar Istono sembari tertawa.

Krisis ekonomi saat ini membuat para peternak prihatin. Harga pakan ternak, terutama jagung, terus melonjak. Untuk menyiasatinya, Istono memberikan banyak makanan beras hitam sebagai pengganti jagung yang sesekali diberikan.

Agar pembeli tak terkecoh, Istono menjelaskan ciri-ciri khusus ayam cemani yang hitam total. Hanya darahnya yang merah tua. Tak ada darah yang hitam. "Penjual biasanya mencabut bulu, dan memerasnya. Di ujung bulu akan keluar cairan hitam. Itu bukan darah, melainkan pigmen bulu yang hitam. Maka pembeli jangan mau dibohongi, tak ada darah hitam di ayam cemani. Mungkin satu di antara seribu," ujarnya.

Menurut Karkono Partokusumo Kamajaya, pemerhati sastra Jawa, pemakaian ayam cemani untuk upacara-upacara ritual itu hanya untuk perlambang. Orang Jawa memang merasa tak lengkap kalau tak ada perlambang itu. "Tapi saya tak perlu menangisi andaikan penggunaan ayam cemani dihilangkan dari hal-hal yang sifatnya magis itu. Bukankah itu adat yang dibuat manusia?" 
http://bimatimur.blogspot.com/2010/01/black-cock-cemani-2.html


Ayam Cemani Hitam Legam Yang Eksotis.

Warna hitam bagi banyak orang berkesan magis dan memiliki kekuatan supra natural. Centeng Belanda atau Si Jampang, kurang berwibawa bila tak berpakaian hitam-hitam. Begitu pula makhluk yang memiliki warna hitam itu pun dianggap memiliki tuah atau kutukan. Ingat dengan kisah-kisah kucing hitam atau burung gagak? Bagaimana dengan ayam cemani yang memiliki bulu, jenger, tulang, daging, kulit, kaki dan taji serbahitam? 

Ini yang menarik. Ayam cemani bukan cuma dianggap ayam keramat, namun juga ayam hias yang khas Indonesia. Memang hewan ini konon punya kemampuan menolak bala. Bagi yang mempercayainya jika memakan dagingnya bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Kepercayaan akan hal-hal gaib itu kini masih ada di sebagian masyarakat, namun kian menipis. Kini dia lebih sebagai ayam hias yang eksotik dan diburu para hobbies lokal dan mancanegara untuk dikoleksi. 
Cemani adalah kata Sanskerta untuk hitam. Jenis ayam ini awalnya disebut ayam kedu. Dalam perkembangan ayam kedu itu terjadi banyak varian yang tidak lagi memiliki warna murni hitam. Sehingga ayam kedu yang masih tetap mempertahankan kehitam legamnya disebut oleh para hobbies sebagai ayam cemani.

Asal Usul
Dari mana ia berasal? Ada beberapa dugaan, namun yang pasti dia berasal dari Kedu, Jawa Tegah. Makanya satwa ini dikenal juga sebagai ayam kedu. Satwa ini mulai naik daun ketika pertama kali tampil dalam pekan raya di Semarang tahun 1926. Pemiliknya Tjokromihardjo, lurah Desa Kalikuto, Grabak, di Magelang. Saat itu wilayah itu masih masuk dalam Karesidenan Kedu.
Menurut data, ayam kepala desa itu pernah tampil di Surabaya tahun 1924 dalam sebuah pekan raya. Saat itu ayam itu dikenal sebagai ayam yang berwarna hitam saja. Tapi kemudian panitia lomba satwa di Semarang menjuluki ayam hitam legam milik Tjokromihardjo sebagai ayam kalikuto, karena berasal dari daerah itu. 
Lucunya, pemilik menolak nama itu. Lalu diusulkan sendiri agar dinamakan ayam kedu saja sebab memang berasal dari karesidenan tersebut. Usul tersebut diterima panitia maka resmilah ayam yang berasal dari Kalikuto berjuluk ayam kedu.

Genetika
Ayam kedu yang ikut dalam kontes tersebut, menurut sebuah telaah, berasal dari keturunan ayam kampung yang dibeli dari daerah Gunung Sumbing. Ayam ini cukup besar dan diduga hasil silangan liar antara ayam Inggris yang diboyong orang pada era Raffles berkuasa (1811-1816). 
Kala itu, konon ada orang Inggris yang membawa dua ekor ayam betina dan seekor jantan asing, yang diduga termasuk jenis ayam ternak Dorking. Mereka dipelihara di daerah Dieng. Mungkin karena kandangnya sederhana dan kurang pengawasan, ayam-ayam itu menyeleweng dan berbaur dengan ayam kampung setempat. Dari keturunannya lebih lanjut terciptalah ayam lokal unggul. Oleh masyarakat setempat ayam ini yang disebut sebagai ayam kedu.
Sementara telaah lain menyebutkan ayam hitam milik Tjokromihardjo bukanlah asli ayam kedu. Sebab ia merupakan hasil kawin silang antara ayam kampung hasil belian dengan ayam australorp, yang penyilangannya dilakukan sendiri oleh pemiliknya.

Legenda
Tapi ada legenda yang juga sampai saat ini masih hidup di sana yakni tentang asal-muasalnya ayam kedu. Konon, kehadiran satwa ini tak disengaja. Menurut legenda sebelum lahirnya kota Temanggung, hidup seorang pertapa yang sakti mandraguna yakni Ki Ageng Makukuhan, yang hobi mengoleksi ayam serba hitam, dan hanya paruhnya yang berwarna putih.
Suatu hari, ketika sedang bertapa di sebuah kuburan keramat di wilayah Kedu, dia memperoleh wangsit untuk mengobati penyakit putra Panembahan Hargo Pikukuh yang bernama Lintang Katon, yakni diobati dengan ayam itu. Bagaimana proses selanjutnya tidak terlalu jelas, namun akhirnya penyakit yang diderita anak semata wayang itu sembuh. Oleh karena tuah yang dimiliki ayam itu akhirnya dijadikan lambang kesembuhan.
Maka tak heran bila tradisi itu kini masih hidup dan dipercaya. Ayam ini memang sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat magis. Misalnya untuk upacara ruwatan, pembangunan pabrik, jembatan atau gedung-gedung bertingkat agar terhindar dari bencana. Tapi penggunaannya juga untuk syarat penyembuhan orang sakit. ”Misalnya untuk penyakit akibat santet,” Raharjo (31), pedagang ayam kedu di Pasar Pramuka, Jakarta.

Hampir Punah
Binatang ini di tempat asalnya kini yakni di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, tersebar di tiga pedukuhan yakni Kahuripan, Sentono dan Beji. Menurut data, populasi ketika awal tahun 1984 tercatat sekitar 5.000 ekor, namun di akhir tahun meningkat menjadi 8.500 ekor. Jumlah ini pada tahun 1997 melorot drastis tinggal 2.000 ekor. Ini dikarenakan masyarakat setempat kurang dibekali pengetahuan sehingga ketika wabah datang, mereka tidak tahu bagaimana menangkalnya.
Pemerintah daerah setempat akhirnya mengambil inisiatif untuk mengatasi persoalan ini. Program pelestarian dicanangkan lewat pemerintah desa dengan mendirikan kelompok peternak bernama ”Makukuhan,” yang diambil dari nama pertapa sakti itu. Kelompok ini awalnya berjumlah 35 orang. Mereka memelihara ayam sekitar 1.500 ekor. Hingga sekarang peternak di sana bisa hidup layak dari ayam-ayam hitam itu.

Kolektor
Menurut Raharjo, permintaan akan ayam ini lumayan besar. Umumnya untuk keperluan upacara, namun tak sedikit pula yang membeli untuk dijadikan koleksi. Bagi kolektor atau hobbies, ayam ini berkesan angker dan gagah dengan bulu-bulunya yang serba hitam pekat. ”Apalagi kalau pagi-pagi berkokok, suasananya lantang,” ujar Ibnu Saptaji (34) hobbies pemula yang bermukim di Pondok Gede, Bekasi
Menurut Ibnu, dia tidak mempercayai soal kegaiban di seputar ayam ini. Dia lebih melihatnya sebagai sarana penghilang stres. Kalau pagi sebelum berangkat ke kantor, dengan membersihkan kandang, memberikan makan, dan mendengarkan kukuruyuknya seraya memandanginya maka hati bapak tiga anak itu merasa damai. Sehingga, menurutnya, tiap hari diusahakan untuk melongok ke kandang ayam itu. 
Begitu juga Jan Steverink, warga Belanda yang telah tiga kali datang ke Indonesia, hanya khusus berburu ayam ini untuk dipelihara di negaranya. Kedatangannya yang terakhir adalah tahun 2000. Dia bercita-cita ingin melestarikan dan memperkenalkan ayam khas Indonesia di Eropa. Tujuan lain sebetulnya ia ingin meneliti sampai sejauh mana penyimpangan warna terjadi. Sebab dari anak-anak ayam menetas jika mencapai usia tertentu, yang betul-betul hitam pekat hanya 50 persen. Maka dengan kegiatannya yang tampak sepele itu, Jan ingin membuat jalur murni ayam cemani. Sehingga pada akhirnya jika sesama ayam ini dikawinkan setelah beberapa generasi maka akan menjadi ayam cemani hitam pekat tanpa ada lagi variasi warna yang keluar. 
Memelihara ayam ini di Kedu, tambah Raharjo yang berasal dari Magelang, seperti memelihara ayam biasa yakni masih tradisional. Ayam diumbar dari pagi sampai sore untuk mencari makanan sendiri, namun pemilik suka memberi dedak sebagai makanan tambahan. ”Jadi ayam ini cukup tahan penyakit, dan gempal,” ujarnya.

Warna Berubah
Bulu-bulu hias yang jantan, bakal keluar ketika ayam berusia 4 bulan. Sampai pada umur 5 bulan warnanya masih hitam, namun lambat laun bermunculan warna lain. Bisa kuning, merah, merah coklat, atau kuning coklat. Saat umur 1,5 tahun bulu hiasnya berubah menjadi merah merona.
Di antara ayam kedu hitam ini, salah satu varietas dikenal sebagai ayam cemani. Inilah yang dianggap primadona ayam kedu karena segalanya serba hitam. Baik bulu, kulit, daging sampai ketulang-tulangnya hitam pekat. Ayam cemani harganya relatif mahal karena langka dan dicari orang. 
Harga ayam cemani yang hitam pekat, menurut Raharjo, bisa mencapai jutaan, namun yang biasa-biasa saja paling mahal Rp 750 ribu seekornya. Sedang yang remaja Rp 100 ribu per ekor. Pelanggan kolektor pemula lebih suka membeli yang remaja. Karena ketika dewasa, ayam berperilaku jinak. Sedang yang kolektor serius lebih suka mencari yang dewasa sebab sudah bisa diketahui kualitasnya, apakah berbulu hitam pekat atau ada variasi warna lain.
”Saya punya langganan paranormal, yang sering memesan ayam cemani untuk keperluan upacara,” lagi tutur Raharjo. Dia tidak tahu ayam itu akan diapakan oleh langganannya, yang dia tahu untuk mengobati penyakit. Dan bagaimana cara pengobatan dengan ayam cemani, dia tidak tahu pasti. Tapi kalau pun dimasak opor, ayam ini enak seperti rasa daging ayam lainnya. Anehnya, tambahnya, kuah opor menjadi berwarna hitam juga seperti memasak ikan cumi yang kuahnya berubah hitam. Nah lho! 
(SH/gatot irawan) http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/03/3/hob01.html

Kasus Pengambilan Darah Ayam Cemani.

Temanggung (tvOne)

Dinas Peternakan Dan Perikanan Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, akan menelusuri kasus pengambilan sampel darah 17 ekor ayam cemani di Kedu oleh lima warga Malaysia yang seakan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. 

"Kami akan menanyakan ke peternak untuk menelusuri perbuatan warga Malaysia itu, apakah terkait penelitian atau kepentingan lain yang sifatnya mistik," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Temanggung, Martias Rusli, di Temanggung, Selasa. 

Lima warga Malaysia secara diam-diam mengambil sampel darah ayam cemani di sebuah hotel di Banjarnegara, tempat mereka menginap pada November 2009. Hingga saat ini, belum diketahui motif pengambilan sampel itu tetapi kasus itu terungkap pada Minggu ( 21/2) setelah seorang peternak mengemukakannya. 

Ia mengatakan adanya dugaan berkaitan dengan kepentingan mistis atau magis atas pengambilan sampel darah itu. "Karena tidak masuk logika jika hanya mengambil beberapa mililiter darah dihargai sampai Rp10 juta. Jika penelitian, dengan uang tersebut bisa membeli ayam cemani," katanya. 

Rusli menyatakan, tidak menutup kemungkinan kegiatan mereka untuk penelitian karena darah mengandung beberapa komponen misalnya Fe (zat besi), antibodi, dan hemoglobin. 

Jika pengambilan sampel darah itu mengarah ke penelitian atas suatu ilmu pengetahuan, katanya, Pemkab Temanggung akan melayangkan protes kepada orang yang bersangkutan atau Pemerintah Malaysia melalui Dinas Peternakan Pemprov Jateng di Semarang dan Kementerian Pertanian di Jakarta. "Karena untuk penelitian ada aturannya," katanya. 

Rusli menyebutkan, populasi ayam cemani Kedu saat ini sekitar 88.122 ekor. Kelompok Tani Cemani, "Makukuhan Mandiri" Kecamatan Kedu, memelihara sekitar 22.637 ekor, diantaranya 214 ekor pejantan dan 1.562 ekor betina. 

Ia mengatakan, Pemprov Jateng akan mematenkan ayam cemani tersebut. Seorang peternak ayam cemani Kedu, Andoko, mengatakan, lima warga Malaysia pada November 2009 mendatangi dirinya dan sejumlah peternak lainnya. Mereka, memilih ayam yang diinginkannya secara acak. 

Pertemuan itu, katanya, dilanjutkan di sebuah hotel di Kabupaten Banjarnegara. Ia mengatakan, di tempat itu darah ayam diteteskan dengan melukai bagian jengger dan kemudian ditempatkan di suatu wadah khusus. 

Ia mengatakan, para peternak menerima imbalan berupa uang dengan jumlah bervariasi dari mereka atas pengambilan sampel darah itu. Jika darah ayam cemani yang berwarna merah kehitaman tidak berubah warna setelah selama lima menit, katanya, pemiliknya akan diberi imbalan lima juta rupiah. 

Jika warna darah tidak berubah selama 10 menit, katanya, imbalannya Rp10 juta. Jika warna darah ayam berubah dalam jangka waktu antara tiga hingga lima menit, katanya, pemiliknya mendapatkan imbalan Rp1,25 juta hingga Rp 2,5 juta.
http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/33564/2010/02/23/kasus_pengambilan_darah_ayam_cemani_oleh_wn_malaysia_ditelusuri/